Hukum Mendatangi Dukun & Tukang Sihir


Say no to dukun

Say no to dukun

Mendatangi dan bertanya kepada teman-teman dekat syaitan ini adalah perbuatan dosa yang sangat besar dan bahkan bisa jadi merupakan kekafiran kepada Allah Ta’ala[23], dengan perincian sebagai berikut:

* Mendatangi dan bertanya kepada mereka tentang sesuatu, tanpa membenarkannya (hanya sekedar bertanya), maka ini hukumnya dosa yang sangat besar dan tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari[24], berdasarkan sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal (orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib, termasuk dukun dan tukang sihir[25]), kemudian bertanya tentang sesuatu hal kepadanya, maka tidak akan diterima shalat orang tersebut selama empat puluh malam (hari)”[26].

Mendatangi dan bertanya kepada mereka tentang sesuatu, kemudian membenarkan ucapan/berita yang mereka sampaikan, maka ini adalah kufur/kafir terhadap Allah Ta’ala[27], Baca lebih lanjut

Iklan

INFO KAJIAN DAERAH LHOKSEUMAWE DAN SEKITARNYA


10372507_1437002049886996_7081464759664243788_n

 

INFO KAJIAN DAERAH LHOKSEUMAWE DAN SEKITARNYA

Bismillah….

Hadirilah Kajian Ilmiah Islamiyyah
“Bahaya Sihir dan Perdukunan”
(Dilengkapi Contoh Praktek Sihir dan Perdukunan)

Pemateri:
Al Ustadz Ali Nur, Lc
(Da’i dari kota Medan Sumatera Utara)

Tempat:
Mesjid Istiqomah Arun (Komplek Perumahan PT. ARUN NGL)
Batuphat (Kota Lhokseumawe)

Dilaksanakan pada:
Ahad, 3 Sya’ban 1435 H/ Ahad 1 Juni 2014
Pukul 09. 30 wib s/d 12. 30 wib

Informasi:
Ikhwan: 0813 6034 7120
Akhwan: 0852 7035 9593

GRATIS Terbuka Untuk Umum Muslimin dan Muslimah!!!

“Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi no.135, kitab Ath-Thaharah)

DUNIA VS AKHIRAT


Ikhwah Fillah,,,, !!!

Beramallah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya;

beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok.”

sebuah kata-kata nasehdemi Allahat yang begitu ringkas namun sarat akan makna!!

Apa maksud dari kata mutiara di atas ini?

Begini. Seandainya atasan Anda di kantor memberi Anda 2 tugas: tugas A dan tugas B. Tugas A dikumpulkan setahun lagi, sedangkan tugas B dikumpulkan besok. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan?

Jelas. Anda tentu akan fokus, serius, dan konsentrasi penuh mengerjakan tugas B. Adapun tugas A akan Anda kerjakan santai saja. Sebab ngumpulnya masih lama.

Nah, kira-kira semakna dengan inilah maksud dari kata mutiara di atas. Kalau mengerjakan urusan akhirat (ibadah), maka kita harus serius dan bergegas. Sebab bisa jadi besok nyawa kita akan dicabut. Kalau nyawa kita benar-benar dicabut besok, dan sekarang kita serius beramal ibadah sebagai bekal di akhirat, mudah-mudahan kita bisa mati dalam keadaan husnul khotimah. Dan kita berharap pahala ibadah kita cukup sebagai bekal masuk Surga. Sedangkan untuk masalah dunia kita kerjakan santai saja. Jangan terlalu berambisi. Bekerja saja sesuai kebutuhan. Jangan berlebihan yang membuat kita lalai dari beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Baca lebih lanjut

Kunci Sukses Bermu’amalah


.:: KUNCI SUKSES BERMU’AMALAH ::.

Oleh
Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari

syarat-diterimanya-amalan-300x187Dalam hidup ini, setiap insan pasti berhubungan dengan orang lain. Ia hidup dikelilingi tetangga kanan dan kiri, muka dan belakangnya, dengan berbagai macam corak ragam, tingkah laku dan latar belakangnya. Ada yang muslim, dan barangkali ada pula yang non muslim. Ada yang multazim, dan ada pula yang fasik. Ada yang terpelajar dan ada yang awam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kepada kita pentingnya menjaga hak-hak tetangga ini. Tetangga memiliki kedudukan yang agung dalam kehidupan beliau. Beliau bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Malaikat Jibril Alaihissallam senatiasa mewasiatkan agar aku berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira ia (Jibril) akan memberikan hak waris (bagi mereka)”. [Muttafaqun ‘alaihi].
Baca lebih lanjut

Bara’ah, Kisah Kesabaran Gadis Kecil yang Hafal Al-Qur’an


 

Berikut ini adalah kisah gadis kecil asal mesir berumur 10 tahun bernama Baraah. Orangtuanya dokter dan pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Pada usia ini, Baraah menghafal seluruh Al Qur’an dengan tajweed, dia sangat cerdas dan gurunya mengatakan bahwa dia sudah maju untuk anak seusianya.

Keluarganya sederhana dan berkomitmen untuk Islam dan ajaran-ajarannya, hingga suatu hari ibunya mulai merasa sakit perut yang parah dan setelah beberapa kali diperiksakan diketahuilah ibu baraah menderita kanker, dan kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir/kronis. Ibu baraah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun suatu hari dan tidak menemukan ibunya di sampingnya.

Dan inilah ucapan ibu baraah kepadanya, “Baraah aku akan pergi ke surga , tapi aku ingin kamu selalu membaca Al-Quran dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak. ” Gadis kecil itu tidak terlalu mengerti apa yang ibunya katakan , Tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan ibunya, terutama ketika ia mulai dipindahkan ke rumah sakit untuk waktu yang lama. Gadis kecil ini menggunakan waktu sepulang sekolahnya untuk menjenguk ibunya ke rumah sakit dan membaca Quran untuk ibunya sampai malam dan sampai ayahnya datang dan membawanya pulang.

Suatu hari pihak rumah sakit memberitahu ayah baraah bahwa kondisi istrinya itu sangat buruk dan ia perlu datang secepatnya, melalui telfon, sehingga ayah baraah menjemput Baraah dari sekolah dan menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ayahnya memintanya untuk tinggal di mobil. Sehingga ia tidak akan shock jika ibunya meninggal dunia. Ayah keluar dari mobilnya, dengan penuh air mata di matanya, ia menyeberang jalan untuk masuk rumah sakit, tapi tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah baraah dan ia meninggal seketika di depan putrinya itu. Tak terbayangkan, tangis gadis kecil ini pada saat itu…!

Tragedi Baraah belum selesai sampai di sini. Berita kematian ayahnya yang disembunyikan dari ibu baraah yang masih opname di rumah sakit, namun setelah lima hari semenjak kematian suaminya akhirnya ibu baraah meninggal dunia juga. Dan kini gadis kecil ini sendirian tanpa kedua orangtuanya, dan dengan bantuan teman-teman ayahnya untuk mencarikan keluarga di Mesir, sehingga keluarganya bisa merawatnya. Tak berapa lama tinggal di mesir gadis kecil Baraah mulai mengalami nyeri seperti yang pernah dialami ibunya, dan oleh keluarganya ia lalu di periksakan. Setelah beberapa kali tes di dapati baraah juga mengidap kanker. tapi sungguh mengejutkan kala ia di beritahu kalau ia menderita kanker. inilah perkataan baraah kala itu: “Alhamdulillah, saya akan bertemu dengan kedua orang tua saya.” Semua teman-teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi dan dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya!

Subhanallah Orang-orang mulai mendengar tentang Baraah dan ceritanya, dan salah seorang dermawan dari Saudi (yang tidak ingin di sebutkan namanya) memutuskan untuk mengurus dan mengirimnya ke Inggris untuk pengobatan. Salah satu channel TV Islam “Al Hafiz” sempat kontak via telpon dengan gadis kecil ini dan memintanya untuk membaca Quran dan vidio diataslah suara indah yang di lantunkan oleh baraah. Hari-hari terlewati dan kanker mulai menyebar di seluruh tubuhnya, para dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya, dan ia tetap bersabar dengan apa yang ditetapkan Allah baginya. Tapi beberapa hari setelah operasi amputasi kakinya sekarang kankernya menyebar ke otak, lalu dokter memutuskan untuk melakukan operasi otak dan sekarang baraah berada di sebuah rumah sakit di Inggris menjalani perawatan.

Tulisan dan video diambil dari: Youtube dengan nama Darul Salam( http://www.youtube.com/watch?v=FMIhTVBgbnA )

Fatwa Ulama: Shalat Sunnah Sebelum Shalat Maghrib


images (4)

Fatwa Syaikh Abdul Karim Al Khudhair

Soal:

Apakah ada shalat sunnah sebelum Maghrib, selain shalat tahiyyatul masjid?

Jawab:

Shalat sunnah yang dilakukan sebelum Maghrib, selain shalat tahiyyatul masjid, adalah termasuk shalat sunnah mutlak yang berpahala. Namun ini tidak termasuk shalat sunnah rawatib. Ada hadits yang memerintahkannya, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

صلوا قبل صلاة المغرب

shalatlah sebelum shalat maghrib

lalu setelah itu beliau mengatakan

لمن شاء

bagi siapa saja yang mau” (HR. Al Bukhari no.1183, dari hadits ‘Abdullah Al Muzanni radhiallahu’anhu)

menunjukkan bahwa hal ini tidak ditekankan.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/39447

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslim.Or.Id

Shalat di Masjid Nabawi yang Ada Kubur Nabi


Ujian-di-Masjid-Nabawi

Kita sudah tahu bahwa terlarang shalat di masjid yang ada kuburan. Namun masih ada yang bersikeras, tetap menganggap tidak terlarangnya hal itu. Mereka beralasan bahwa masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri (Masjid Nabawi) di dalamnya terdapat kubur Nabi. Lantas kenapa masalah?

Di antara hadits yang menunjukkan larangan shalat di kubur adalah:

Dari Abu Martsad Al Ghonawi, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا

Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya” (HR. Muslim no. 972).

Dari Jundab, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Ingatlah bahwa orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kubur nabi dan orang sholeh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah jadikan kubur menjadi masjid. Sungguh aku benar-benar melarang dari yang demikian” (HR. Muslim no. 532).

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak boleh membangun masjid di atas kubur karena seperti itu adalah wasilah (perantara) menuju kesyirikan dan dapat mengantarkan pada ibadah kepada penghuni kubur. Dan tidak boleh pula kubur dijadikan tujuan (maksud) untuk shalat. Perbuatan ini termasuk dalam menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena alasan menjadikan kubur sebagai masjid ada dalam shalat di sisi kuburJika seseorang pergi ke pekuburan lalu ia shalat di sisi kubur wali –menurut sangkaannya-, maka ini termasuk menjadikan kubur sebagai masjid. Perbuatan semacam ini terlaknat sebagaimana laknat yang ditimpakan pada Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid” (Al Qoulul Mufid, 1: 404).

========================

Cukup, syubhat di atas dijawab dengan penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berikut ini:

  1. Masjid Nabawi tidaklah dibangun di atas kubur. Bahkan yang benar, masjid Nabawi dibangun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup.
  2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah di kubur di masjid sehingga bisa disebut dengan orang sholeh yang di kubur di masjid. Yang benar, beliau dikubur di rumah beliau.
  3. Pelebaran masjid Nabawi hingga sampai pada rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rumah ‘Aisyah bukanlah hal yang disepakati oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Perluasan itu terjadi ketika sebagian besar sahabat telah meninggal dunia dan hanya tersisa sebagian kecil dari mereka. Perluasan tersebut terjadi sekitar tahun 94 H, di mana hal itu tidak disetujui dan disepakati oleh para sahabat. Bahkan ada sebagian mereka yang mengingkari perluasan tersebut, di antaranya adalah seorang tabi’in, yaitu Sa’id bin Al Musayyib. Beliau sangat tidak ridho dengan hal itu.
  4. Kubur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah di masjid, walaupun sampai dilebarkan. Karena kubur beliau di ruangan tersendiri, terpisah jelas dari masjid. Masjid Nabawi tidaklah dibangun dengan kubur beliau. Oleh karena itu, kubur beliau dijaga dan ditutupi dengan tiga dinding. Dinding tersebut akan memalingkan orang yang shalat di sana menjauh dari kiblat karena bentuknya segitiga dan tiang yang satu berada di sebelah utara (arah berlawanan dari kiblat).  Hal ini membuat seseorang yang shalat di sana akan bergeser dari arah kiblat. (Al Qoulul Mufid, 1: 398-399)

Artikel Rumaysho.Com