Cintailah Saudaramu…


image

Berkata Syeikh Utsaimin -rahimahullah- :

ﺇﺫﺍ ﻛﻨﺖ ﻻ ﺗﺤﺐ ﻷﺧﻴﻚ ﻣﺎ ﺗﺤﺐ ﻟﻨﻔﺴﻚ ﻓﺃﻧﺖ ﻣُﺼﺮ
ﻋﻠﻰ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻦ ﻛﺒﺎﺋﺮ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ .

Jika engkau tidak mencintai saudaramu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri maka engkau terus menerus berada dalam dosa besar

📕 ﻓﺘﺢ ﺫﻱ ﺍﻟﺠﻼﻝ ﻭﺍﻹﻛﺮﺍﻡ – 3/536-

Hukum Mendatangi Dukun & Tukang Sihir


Say no to dukun

Say no to dukun

Mendatangi dan bertanya kepada teman-teman dekat syaitan ini adalah perbuatan dosa yang sangat besar dan bahkan bisa jadi merupakan kekafiran kepada Allah Ta’ala[23], dengan perincian sebagai berikut:

* Mendatangi dan bertanya kepada mereka tentang sesuatu, tanpa membenarkannya (hanya sekedar bertanya), maka ini hukumnya dosa yang sangat besar dan tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari[24], berdasarkan sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal (orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib, termasuk dukun dan tukang sihir[25]), kemudian bertanya tentang sesuatu hal kepadanya, maka tidak akan diterima shalat orang tersebut selama empat puluh malam (hari)”[26].

Mendatangi dan bertanya kepada mereka tentang sesuatu, kemudian membenarkan ucapan/berita yang mereka sampaikan, maka ini adalah kufur/kafir terhadap Allah Ta’ala[27], Baca lebih lanjut

DUNIA VS AKHIRAT


Ikhwah Fillah,,,, !!!

Beramallah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya;

beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok.”

sebuah kata-kata nasehdemi Allahat yang begitu ringkas namun sarat akan makna!!

Apa maksud dari kata mutiara di atas ini?

Begini. Seandainya atasan Anda di kantor memberi Anda 2 tugas: tugas A dan tugas B. Tugas A dikumpulkan setahun lagi, sedangkan tugas B dikumpulkan besok. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan?

Jelas. Anda tentu akan fokus, serius, dan konsentrasi penuh mengerjakan tugas B. Adapun tugas A akan Anda kerjakan santai saja. Sebab ngumpulnya masih lama.

Nah, kira-kira semakna dengan inilah maksud dari kata mutiara di atas. Kalau mengerjakan urusan akhirat (ibadah), maka kita harus serius dan bergegas. Sebab bisa jadi besok nyawa kita akan dicabut. Kalau nyawa kita benar-benar dicabut besok, dan sekarang kita serius beramal ibadah sebagai bekal di akhirat, mudah-mudahan kita bisa mati dalam keadaan husnul khotimah. Dan kita berharap pahala ibadah kita cukup sebagai bekal masuk Surga. Sedangkan untuk masalah dunia kita kerjakan santai saja. Jangan terlalu berambisi. Bekerja saja sesuai kebutuhan. Jangan berlebihan yang membuat kita lalai dari beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Baca lebih lanjut

MAYORITAS Bukanlah Standart Kebenaran


kebenaran

Al Haq (kebenaran) itu bukanlah banyaknya pendukung, bukanlah mayoritas pendapat, bukan pula mengguritanya simpatisan. Tetapi, ukuran Al Haq adalah kesesuainnya dengan Al Quran dan hadits, menurut pemahaman para shahabat dan generasi terbaik

Namun, tetap saja banyak yang tidak sepakat dengan kalimat di atas. Salah satu contoh pendapat seperti ini :

“Kalo ukuran kesesuaian kamu bertentangan dengan mayoritas umat, maka yang bermasalah bukan mayoritas umat mas, tapi kamu-lah yang salah !!”

Demikianlah.. Kebanyakan manusia, tak peduli lagi dan tak mau tahu suatu pendapat itu sesuai atau tidak dengan Al Haq..

Maka lahirlah pemahaman :

Suatu pendapat, selama ia tak sejalan dengan mayoritas maka serta merta dianggap salah, dan selama pendapat tsb sejalan dengan mayoritas maka dianggapnya benar..

Maka jangan heran jika banyak kita jumpai seruan untuk mengikuti kebanyakan orang (mayoritas) dalam hal beragama, ia berbendapat bahwa mengikuti mayoritaslah merupakan kebenaran dalam beragama..

Saudaraku, kalo kita mau lebih jeli lagi dalam menilai dan menelaahnya, maka pemahaman semacam ini sangatlah mirip dengan hukum rimba : Dimana yang jumlahnya paling banyak itulah yang paling kuat, yang paling kuat itulah yang menang, dan yang menang maka harus diikuti, dipatuhi, dan dibenarkan (dianggap sebagai kebenaran). Ini sangat primitif.

Padahal.. Telah dijelaskan dalam Alquran bahwa mengikuti kebanyakan orang bukanlah merupakan tolak ukur suatu kebenaran, bahkan bisa jadi justru berbalik dari kebenaran itu sendiri.

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah, tahukah anda bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman :

1. Kebanyakan manusia justru menyesatkan :

وَإِنتُطِعْأَكْثَرَمَنفِيالأَرْضِيُضِلُّوكَعَنسَبِيلِاللّهِإِنيَتَّبِعُونَإِلاَّالظَّنَّ

“Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah” (Qs:al An’aam:116)

2. Kebanyakan manusia tidak bersyukur :

إِنَّاللّهَلَذُوفَضْلٍعَلَىالنَّاسِوَلَـكِنَّأَكْثَرَالنَّاسِلاَيَشْكُرُونَ

“..akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur ” (Qs Al Baqoroh:243)

3. Kebanyakan manusia tidak mengetahui kebenaran :

وَلَـكِنَّأَكْثَرَالنَّاسِلاَيَعْلَمُونَ

“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ” (Qs.Al A’raf:187)

4. Kebanyakan manusia lalai mengingat Allah :

وَإِنَّكَثِيراًمِّنَالنَّاسِعَنْآيَاتِنَالَغَافِلُونَ

“.. dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu lengah terhadap tanda tanda kekuasan Kami ” (Qs.Yunus:92)

5. Kebanyakan manusia itu fasik :

وَإِنَّكَثِيراًمِّنَالنَّاسِلَفَاسِقُونَ

“..dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu benar benar fasiq ” (Qs.Al Maa’idah:49)

6. Kebanyakan manusia mengingkari Al Quran :

وَلَقَدْصَرَّفْنَالِلنَّاسِفِيهَـذَاالْقُرْآنِمِنكُلِّمَثَلٍفَأَبَىأَكْثَرُالنَّاسِإِلاَّكُفُوراً

“ dan sesungguhnya Kami telah mengulang ulang kepada manusia didalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai selain mengingkari ”. (Qs.Al Isra’:89)

7. Kebanyakan manusia mengingkari berjumpa dengan Allah :

وَإِنَّكَثِيراًمِّنَالنَّاسِبِلِقَاءرَبِّهِمْلَكَافِرُونَ

“ Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabb-nya . (Qs.Ar Ruum:8)

8. Kebanyakan manusia tidak beriman :

وَلَـكِنَّأَكْثَرَالنَّاسِلاَيُؤْمِنُونَ

“ ..akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman ”.(Qs.Hud:17)

“””””””””””””””

Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah, tahukah juga anda bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman :

1. Sedikit sekali manusia yang bersyukur :

وَقَلِيلٌمِّنْعِبَادِيَالشَّكُورُ

“ Sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur .” (Qs.Saba’:13)

2. Sedikit sekali manusia yang beriman :

وَمَاهُوَبِقَوْلِشَاعِرٍقَلِيلاًمَاتُؤْمِنُونَ

“ ..Sedikit sekali kalian beriman kepadanya . (Qs.Al Haaqqah:41)

3. Sedikit sekali manusia menginggat Allah :

مَّعَاللَّهِقَلِيلاًمَّا

“ Sangatlah sedikit kalian-Nya .” (Qs.An Naml:62)

4. Sedikit sekali manusia yang mau mengambil pelajaran :

مِندُونِهِأَوْلِيَاءقَلِيلاًمَّاتَذَكَّرُونَ

“..Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran ” (Qs.Al A’raf:3)

“”””””””””””””””””

Saudaraku, alangkah banyaknya manusia yang tidak mengenal dan mengetahui kebenaran, yang lalai mengingat Allah, yang tidak pandai bersyukur yang mengingkari Al-Quran, yang mengingkari perjumpaan dengan Rabb-nya dan yang tidak beriman..

Serta alangkah sedikitnya manusia yang bersyukur, yang mau mengambil pelajaran, yang senantiasa mengingat Allah, dan yang beriman kepada Al-Quran..

Apa gerangan yang membuat kita untuk berlomba-lomba menjadi yang terbanyak, berkorban demi yang banyak, dan mengikuti serta membela mati-matian yang terbanyak ??

Allah subhanahu wata’ala telah mengingatkan kepada hamba hamba-Nya :

وَإِنتُطِعْأَكْثَرَمَنفِيالأَرْضِيُضِلُّوكَعَنسَبِيلِاللّهِإِنيَتَّبِعُونَإِلاَّالظَّنَّ

“Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah “(Qs:al An’aam:116)

Maka berfikirlah wahai manusia.

“””””””””””””

All, namun juga bukan berarti yang banyak (mayoritas) itu pasti keliru, bukan begitu. Yang harus kita garis bawahi dan kita pahami adalah bahwa kebanyakan manusia atau mayoritas tidaklah bisa dijadikan sebagai standart kebenaran, karena banyak atau sedikitnya pendukung bukanlah ukuran sebuah kebenaran.

Bonus :

Ada sebuah syubhat di masyarakat yang mengira bahwa kebenaran itu pasti berada pada banyaknya atau mayoritas manusia dengan berdalil pada riwayat berikut :

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Maka jika kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada as sawaadul a’zham yaitu al haq dan ahlul haq” (HR. Ibnu Majah)

Maka kita katakan :

Adalah salah besar jika dianggapnya as sawaadhul a’zham itu adalah mayoritas manusia, bahkan Ishaq bin Rahawaih yang juga guru dari Imam Al Bukhari, beliau rahimahullaah mengatakan bahwa hanya orang bodoh yang mengira bahwa as sawaadul a’zhama dalah mayoritas orang secara mutlak :

“Jika engkau tanyakan kepada orang-orang bodoh siapa itu as sawadul a’zham, niscaya mereka akan menjawab : MAYORITAS MANUSIA. Mereka tidak tahu bahwa Al Jama’ah itu adalah orang alim yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam dan jalannya. Barangsiapa yang bersama orang alim tersebut dan mengikutinya, ialah Al Jama’ah, Dan yang menyelisihinya, ia meninggalkan Al Jama’ah” [Hilyatul Aulia, 9/238]

Status

Obat Hati, Lakukanlah Lima Perkara


Bagaimana cara mengobati hati yang sakit, yang sedih, yang gelisah?

Berikut kita lihat penjelasan Imam Nawawi dalam At Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an.

Ibrahim Al Khowash berkata, obat hati itu ada lima:

images (3)

1- Membaca Al Qur’an dan tadabbur (merenungkannya)

2- Rajin mengosongkan perut (dengan gemar berpuasa)

3- Mendirikan shalat malam (shalat tahajud)

4- Merendahkan diri di hadapan Allah (dengan do’a dan dzikir) di akhir malam (waktu sahur)

5- Bermajelis (bergaul) dengan orang-orang sholeh. (At Tibyan karya Imam Nawawi, hal. 87).

Coba praktikkan amalan di atas, niscaya kita akan merasakan kesejukan dan penyejuk hati. Itulah obat hati yang paling mujarab.

Semoga Allah menganugerahkan kita hati yang selamat dari berbagai macam noda.

Referensi:

At Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Maktabah Ibnu ‘Abbas, cetakan pertama, tahun 1426 H

Artikel Rumaysho.Com

Sikap Ramah dan Lemah Lembut


lemahlembutlah-1

Allah ta’ala mensifati nabi-nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau adalah orang yang berakhlak mulia. Allah ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤)
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs. Al Qalam: 4)

Allah mensifati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sifat lemah lembut dan penyayang. Allah ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali Imran: 159)

Allah juga mensifati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sifat pengasih dan penyayang kepada kaum mukminin. Allah ta’ala berfirman

 لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ 
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Qs. At Taubah)

Dan Rasulullah memerintahkan dan menghasung untuk bersikap lemah lembut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, sampaikan kabar gembira dan jangan menakut-nakuti.” (HR. Bukhari & Muslim)

Imam Muslim juga meriwayatkan dalam Shahih-nya dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz “Sampaikanlah kabar gembira, jangan menakut-nakuti. Dan permudahlah jangan mempersulit.”

Al Bukhari juga meriwayatkan dalam Shahih-nya dari sahabat Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat mengenai seorang Arab Badui yang kencing di dalam masjid,

“Biarkan dia menyelesaikan kencingnya, kemudian tuangkanlah setimba air di tempat yang dikencinginya, atau siramlah dengan seember air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan bukan untuk mempersulit.”

Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai Aisyah sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan.” Sedang Imam Muslim meriwayatkan dengan lafadz:

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dan Dia memberi pada kelembutan itu sesuatu yang tidak diberikan Nya pada sikap kasar, dan apa yang tidak diberikan Nya pada yang lainnya.”

Imam Muslim juga meriwayatkan dalam Shahihnya dari Aisyah radhiyallahu ‘anhabahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya, dan tidaklah kelemah lembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.”

Imam Muslim juga meriwayatkan, dari Jarir bin Adillah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang terhalangi dari bersikap lemah lembut, maka dia telah terhalang dari seluruh bentuk kebaikan.”

Allah juga memerintahkan kepada dua orang Nabi dan rasul yang mulia, Musa dan Harun agar mereka mendakwahi Fir’aun dengan lemah lembut. Allah berfirman,

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (٤٣)فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (٤٤)
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut.” (QS. Thaha: 43-44)

Allah juga mensifati para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia bahwa mereka adalah orang yang selalu berkasih saying sesama mereka. Allah ta’ala berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka.” (QS. Al Fath: 29)

***
artikel muslimah.or.id
Rifqan Ahlassunnah bi Ahlissunnah karya Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad
(Diambil dari Edisi Terjemah: Nasihat Salaf Untuk Salafi)

Membuat Orang Lain Bahagia


bunga

Coba bayangkan jika kita bisa

mengangkat kesulitan orang yang kesusahan …

mengenyangkan yang lapar …

melepaskan orang yang terlilit utang …

membuat orang lain bahagia,

keutamaannya, itu lebih baik dari melakukan ibadah i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.

Sungguh ini adalah amalan yang mulia.

Keutamaan orang yang beri kebahagiaan pada orang lain dan mengangkat kesulitan dari orang lain disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

Lihatlah saudaraku, bagaimana sampai membahagiakan orang lain dan melepaskan kesulitan mereka lebih baik dari i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan lamanya.

Al Hasan Al Bashri pernah mengutus sebagian muridnya untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Beliau mengatakan pada murid-muridnya tersebut, “Hampirilah Tsabit Al Banani, bawa dia bersama kalian.” Ketika Tsabit didatangi, ia berkata, “Maaf, aku sedang i’tikaf.” Murid-muridnya lantas kembali mendatangi Al Hasan Al Bashri, lantas mereka mengabarinya. Kemudian Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai A’masy, tahukah engkau bahwa bila engkau berjalan menolong saudaramu yang butuh pertolongan itu lebih baik daripada haji setelah haji?”

Lalu mereka pun kembali pada Tsabit dan berkata seperti itu. Tsabit pun meninggalkan i’tikaf dan mengikuti murid-murid Al Hasan Al Bashri untuk memberikan pertolongan pada orang lain.[1]

Rajinlah membuat orang lain bahagia dan bantulah kesusahan mereka. Hanya Allah yang memberi taufik.

 


[1] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 294.

Diselesaikan di malam hari di Panggang, Gunungkidul, 27 Jumadats Tsaniyyah 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel diambil dari Rumaysho.Com